BuLekh: PAHLAWAN HUJAN.........!!!

Sunday, November 11, 2012

PAHLAWAN HUJAN.........!!!


Hujan, seperti musik. Aku bisa mendengar iramanya dengan sangat jelas dari kamarku dan ranjangku yang hangat. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengar musik hujan di pagi hari ketika terjaga dari tidur. Dunia basah dan damai dengan udara yang dingin, dan bau harum taman yang tersiram hujan. Tak ada matahari yang menyilaukan, yang selalu membuat kamarku seolah-olah berubah menjadi oven yang panas menyengat.
Menunggu saat-saat langit tinggal meneteskan sisa-sisa air yang dikandungnya, ketika langit kelabu menjadi biru lagi, kadang muncul pelangi. Momen yang singkat itu seperti keajaiban, peri-peri turun ke bumi lewat pelangi dan kalau mereka mendengar keinginanmu, semua akan terkabul. Aku punya satu keinginan yang kupendam sejak masih sekolah dasar. Bahwa suatu hari sehabis hujan akan ada seorang laki-laki yang menggandeng tanganku dibawah halte bus dengan titik-titik air di rambutnya. Impian yang bodoh ! Aku tahu. Tapi impian itu sudah ada sejak dulu sekali.
Sekali kali aku keluar dari rumahku dan melihat halte bus di seberang jalan dekat rumahku. Aku selalu memimpikan laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan belum pernah ku temui. Sampai hari ini pun, ketika aku sudah SMA, ada sebagian hatiku yang masih berharap suatu hari hal itu akan betul-betul terjadi.
Aku menyiapkan payungku dan siap berangkat sekolah di pagi yang gerimis itu. Sekolahku ada di dekat perempatan jalan Merpati. Aku selalu naik bus kesana.
“Tiara, kebetulan sekali”, Fida, temanku tersenyum, “Aku punya sesuatu untukmu”, Ia mengulurkan sehelai tiket untukku. “Ini tiket untuk nonton konser di Alun-alun. Pukul empat sore nanti. Fendy membelikannya untukku”, Fendy adalah pacar Fida, “Tapi, mendadak Fendy ada acara, aku malas nonton sendirian. Mungkin kamu bisa memakai tiketku”, kata Fida.  Aku sangat gembira sekali, “Aku sangat berterima kasih, ini adalah kesempatan untuk bisa bertemu dengan vokalis bend kesukaanku. Tapi sore nanti aku sibuk membantu ibuku. Tapi apa salahnya akan kuusahakan”.
Ketika pulang sekolah, hujan sudah berhenti. Tapi mendung masih mengantung di langit. Beberapa menit menjelang pukul empat, aku keluar rumah mencari angkot untuk pergi ke Alun-alun. Dan tidak lupa berpamitan dulu dengan wanita yang paling aku sayangi. Di seberang jalan Fida mengingatkan, “kamu harus buru-buru, sebentar lagi pasti hujan !”. ia sendiri terburu-buru mencari taksi. Aku cuma tertawa melihatnya.
Fida benar, tak sampai lima menit kemudian awan hujan mulai melepaskan tetes airnya ke bumi. Wangi tanah basah langsung memenuhi udara, aku berlari ke emperan halte bus sambil berusaha mencegat angkot yang lewat. Tapi, tak ada angkot kosong. Air hujan yang jatuh ke jalan menciprati kakiku. Saat itulah aku merasa keseimbangan tubuhku berkurang, karena menginjak batu kecil di jalan. Untung saja aku tak sampai jatuh. Seseorang telah menolongku, dia bahkan menggandeng tanganku menuju halte bus.
Deg !!! Seperti laki-laki yang kuimpikan. Ia tinggi, tapi wajahnya manis sekali. Rambutnya kecoklatan, tersenyum basa-basi sekilas padaku. Titik-titik air hujan berkilauan di rambutnya, seperti hiasan mimpiku yang sengaja di pasang disana. Aku tak bisa berkata-kata lagi, selain ucapan terima kasih untuknya karena telah menjadi pahlawan hujanku.
Hujan  semakin deras. Tetes-tetes air dijalan mulai membentuk genangan. Tak ada angkot kosong yang lewat. Laki-laki itu melirik jam tangannya. “Ah, sudah terlambat”. Aku jadi ikut meirik jam tanganku. “Ah, iya. Konsernya pasti sudah dimulai”. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku, “konser ??”. “Di Alun-alun kota”, sahutku. “kamu juga akan pergi kesana? Ah kebetulan sekali”, ia tertawa mrnyenangkan. “Tapi kelihatannya tak ada angkot, semuanya penuh”, kataku.
Ia tersenyum sambil menyibakkan butir-butir air di rambutnya. “Apakah kita bisa masuk kalau datang terlambat ?”, tanyanya. “Entahlah, aku baru kali ini nonton konser di Alun-alun kota”, jawabku jujur. “Seharusnya aku berangkat lebih awal”, aku menyesali diriku sendiri. “Aku juga”, katanya. Oh tidak, jangan menyesalinya. Lihatlah sisi baiknya. Kita bisa bertemu disini sekarang. “Lihatlah sisi baiknya”, katanya tersenyum dan mengulurkan tangan, “Sena”.
Gilaaa !!! Laki-laki ini seperti bisa membaca pikiranku. Sedikit gugup kusambut sentuhan tangannya. “Mutiara”, kataku. “Nama yang cantik, seperti orangnya”, sahutnya.
Sebuah taksi didepan kita dan terbuka pintu mobil dengan seorang laki-laki yang tak kalah manis dari Sena, dia teman Sena. “Sepertinya kita harus berpisah, aku berharap kita bisa bertemu lagi”. Katanya manis.
Hujan mulai mereda. Mendung di langit sore perlahan menghilang dan tergantikan bias keemasan cahaya matahari yang perlahan memudar.
Sesampainya di Alun-alun dengan senangnya aku melihat aksi band kesukaanku ini. Keluar dari konser, wajah langit begitu cerah, langit pekat di taburi bintang-bintang, bagai kue coklat ditaburi gula pasir. Aku pulang ditemani kenangan yang indah.
Besoknya hujan turun lagi. Aku pergi ke sekolah dengan perasaan amat senang. Entah kenapa rasanya sangat bersemangat. Mungkin karena kemarin melihat konser band kesukaanku atau karena aku telah menemuan laki-laki impianku. Tapi apa aku bisa bertemu dengannya kembali. “Ah, bodoh ! Untuk apa aku memikirkan hal seperti itu ? Tapi laki-laki itu telah menghiasi impianku.
Hujan masih mengguyur. Tepat saat aku akan pulang ke rumah, hujan berhenti. Seperti biasa aku melangkah menuju halte bus sambil menikmati suasana sehabis hujan. Dan masih juga berharap ada keajaiban baru turun ke bumi, sore ini.
SELESAI

No comments :

Post a Comment