BuLekh: Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma

Wednesday, March 5, 2014

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma



Tugas UAS
Nama               : Jauharotul Mufidah
NIM                : D07212010
Kelas               : 3C
Mata kuliah     : Bahasa Indonesia
Analisis Novel, unsur Intrinsik dan Ekstrinsik
DARI AVE MARIA KE JALAN LAIN KE ROMA
Unsur Intrinsik secara khusus dalam setiap judul dalam novelnya.
JAMAN JEPANG :
AVE MARIA dan KEJAHATAN MEMBALAS DENDAM
Unsur Intrinsik
a.      Tema
Ave Maria mempunyai tema percintaan, terlihat saat Zulbahri yang merelakan istrinya untuk syamsu dan memilih pergi tanpa tujuan dan hanya ditemani dengan buku karya zulbahri sendiri.
Kejahatan Membalas Dendam mempunyai tema yaitu Persaingan, dimana didalamnya diceritakan sebuah persaingan sebuah karya maupun sebuah percintaan.
b.      Alur / Plot
Ave Maria
Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear. Novel ini menggunakan alur maju-mundur.
Kejahatan Membalas Dendam
Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal. Plot    :
Plot yang tersirat dalam cerita Ave Maria adalah Ketika Zulbahri pergi meninggalkan Wartini, dan merelakan istrinya untuk teman lamanya, hingga ia pun jalan tak menentu arah menjalani sisa hidupnya. Tersirat pada halaman18.
Plot yang tersirat dalam cerita Kejahatan Membalas Dendam adalah saat adegan ketiga belas dari babak ketiga.


c.         Sudut Pandang
Sudut pandang dalam kedua cerita tersebut adalah sudut pandang orang ketiga, karena si pengarang tidak mencantumkan dirinya di dalam cerita.
d.      Tokoh dan Perwatakan
Ave Maria :
w  Zulbahri  = Tegar, tidak rapi, suka membaca buku dan mudah mengakui kesalahan.
Tegar : diceritakan saat Zulbahri yang rela mengalah untuk kebahagiaan istrinya yang lebih pantas bersama teman lamanya.
w  Wartini   = Munafik, egois.
Terlihat di dalam cerita saat wartini yang ingin memiliki kedua pria tersebut, walaupun ia sering kali berkata pada suaminya, bahwa hanya suaminya lah yang ia cintai, bukan teman lamanya.
w  Syamsu   = Licik dan mudah terpikat wanita.
Licik : Terlihat saat ia yang datang kembali ke kehidupan wartini yang sudah berkeluarga, dan dengan maksud hanya datang sebagai sahabat, tetapi akhirnya merebut wartini dari tangan Zulbahri hingga menghamili wartini.
w  Ayah       = Baik
Terlihat saat ia terus menunggu kedatangan Zulbahri walaupun terlihat sedikit aneh dengan awal kedatangannya. Ia terus mendengarkan keluh kesah Zulbahri.
w  Ibu         = Baik
Terlihat saat Ibu yang dengan sabarnya mendengarkan keluh kesah Zulbahri hingga sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Kejahatan Membalas Dendam :
w  Ishak      = Pengarang Muda, Lemah, Putus asa
Terlihat di dalam cerita saat Ishak lari dari dunia nya hanya karena kritikan dari Pak Orok hingga meninggalkan tunangannya.
w  Satilawati= Tunangan Ishak
Terlihat saat ia yang terus berjuang mempertahankan karir dan cintanya.
w  Kartili     = Dokter, Teman Ishak, Licik
Terlihat sat ia yang berusaha menjelekkan Ishak untuk mendapatkan Satilawati yang sudah lama ia cintai.
w  Asmadiputera= Meester in de rechten, teman Ishak, Baik, setia kawan
Terlihat saat ia yang hanya satu-satunya teman dalam ikut memperjuangkan nama Ishak di depan rakyat.
w  Sukroso  = Pengarang Kolot, Ayah Satilawati, Pengkritik.
Terlihat saat ia yang tidak menyukai hasil karya dari Ishak dan terus mengkritik dari karya yang dibuat Ishak.
w  Perempuan Tua= Nenek Sasilawati, Dukun , Adil
Terlihat saat ia yang berusaha adil kepada keluarganya, dimana ayah sasilawati yang berusaha menjauhkan Ishak dari kehidupannya, tapi nenek itu berusaha melihat jalan tengahnya dengan tidak ingin menyakiti hati cucu kesayangannya.
e.         Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita tersebut adalah Bahasa Indonesia baku, tetapi mudah dimengerti untuk pembaca pada zaman sekarang.
f.         Amanat
Ave Maria   
Cinta adalah sebuah ketulusan dimana tersirat dalam cerita Zulbahri yang rela memberikan orang yang dia cintai demi kebahagiaan yang orang dicintainya bersama orang lain.
Kejahatan Membalas Dendam
Sebuah kejahatan yang terselubung di dalam kebaikan sekali pun pasti akan menimbulkan akibatnya sendiri terhadap orang yang melakukan.
g.        Latar / Setting
Ave Maria
Waktu         : Zaman Jepang,
w  Pagi hari : “Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula diberanda depan. Hari panas alang kepalang.
w  Sore hari  : “Matahari sudah mulain condong ke barat. Sebentar lagi akan hilang dari pandangan mata.
w  Malam hari : “Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan.”
Tempat        :
w  Rumah Ayah dan Rumah Zulbahri( Jakarta )
w  Beranda rumah
w  Jalan : “Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil berjalan juga”.
Sosial          : Keluarga ayah dan Ibu yang mulai menerima dan bisa mengajak Zulbahri kembali berbicara pasca meninggalkan istrinya.
Suasana       : Sedih, pilu.
Kejahatan Membalas Dendam
Waktu         : Zaman Jepang, Sepanjang hari
Tempat        : Jakarta,
Sosial          : Lahirnya karya sastra baru membuat adanya sebuah persaingan.

CORAT-CORET DIBAWAH TANAH :
1.    KOTA-HARMONI
    Unsur Intrinsik     :
a.    Tema
Tema dalam judul Kota-Harmoni adalah “Kekuasaan” .
Hal yang menguatkan pada tema tersebut adalah saat percakapan antara seorang perempuan tua dengan seorang kondektur, dimana seorang kondektur dengan angkuhnya menegur perempuan tua untuk pindah dari tempat itu. Dialog yang menunjukan tema kekuasaan :
Seorang perempuan tua, bungkuk, dan kurus, bajunya berlubang seperti disengaja melubangkannya, seperti renda seperai, dimarahi kondektur, “Ini kelas satu, mengapa di sini. Ayo kebelakang. Kalau tidak, bayar lagi.”
Lambat-lambat perempuan tua itu pergi ke kelas dua. Tiba di sana ia melihat dengan marah kepada kondektur dan katanya, ”Ah, berlagak betul. Sedikit saja dikasih Nippon kekuasaan sudah begitu. Sama orang tua berani. Tetapi coba kalau orang Nippon, membungkuk-bungkuk. Bah!”
b.   Alur / plot
§  Alur cerita ini adalah alur maju, karena sepanjang cerita mengisahkan kejadian selam di sebuah trem.
§  Plot nya saat dimana orang Indonesia bertengkar dengan seorang Nippon yang menaiki jendela trem dan terlibat adu mulut. Dan orang Kenpentai membela orang Indonesia karena memang orang Indonesia benar untuk memarahi orang Nippon tersebut.
c.    Sudut Pandang
Sudut pandang yang ada dalam cerita ini adalah sudut pandang orang ketiga, karena pengarangnya tidak terlibat di dalam cerita, dan pengarangnya hanya menceritakan kisah orang lain.
d.   Tokoh / Perwatakan
Tokoh dan perwatakan dalam cerita ini :
§  Perempuan muda, Belanda Indo        = Angkuh, Sombong.
“Siapa lagi yang membawa terasi ke atas trem. Tidak tahu aturan, ini kan kelas satu.” dia berkata kepada salah satu penumpang di dalam trem itu.
§  Perempuan tua, bungkuk, kurus       = Sederhana dan Merana.
Terlihat saat perempuan tua ini bersitegang dengan seorang kondektur yang mengusir perempuan tua ini untuk pindah  kelas, karena tidak sanggup membayar biaya menaiki trem.
§   Kondektur 1      =  Angkuh dan Semena-mena.
Terlihat saat kondektur 1 mengusir perempuan tua yang tidak sanggup membayar biaya trem dengan semena-mena tanpa belas kasihan.
§  Kondektur 2      =  Pemarah
Terlihat saat kondektur 2 yang berkomentar saat melihat kondektur 1 yang mengusir perempuan tua untuk  pindah kelas 2 karena tidak cukup untuk membayar biaya menaiki trem.
§  Seorang anak muda  =  Jujur
Terlihat saat ia mengutarakan ketidaksukaanya terhadap perlakuan orang Nippon yang semena-mena di dalam trem yang penuh sesak. Dialog      : “Orang kelas satu dan orang kelas dua disamakannya saja, seperti binatang saja diperlakukannya.”
§  Orang Nippon             =   Semena-mena dan tidak tahu aturan.
Terlihat saat 3 orang Nippon yang sengaja memberhentikan trem yang sedang berjalan dengan tanpa aturan dan menaiki term tersebut dengan senyum kemenangan.
§   Orang kenpentai         =   Adil
Terlihat saat ia marah kepada seorang Nippon yang menaiki jendela trem, yang memang sudah jelas marah kepada orang yang salah. Bukan seperti orang lain yang memandang sebuah kekuasaan untuk memarahi orang yang salah.
e.    Gaya Bahasa
Dan gaya bahasa dalam cerita ini menggunakan gaya bahasa Indonesia yang baku, bahkan didalam cerita ini mengandung sebagian istilah dalam bahasa Jepang atau bahasa yang jarang terdengar pada zaman sekarang.
f.     Amanat
Amanat dalam cerita ini adalah:
Bahwa setiap orang memiliki kekuasaan tersendiri, dan sebaiknya kekuasaan itu digunakan dan ditempatkan pada hal yang benar dan seadil-adilnya.
g.    Latar / Setting
Latar dalam cerita ini :
§  Latar tempatnya berada di dalam sebuah Trem.
§  Latar Waktunya adalah Sepanjang hari mulai dari pagi hingga malam, karena   menceritakan kejadian di dalam sebuah trem selama dalam perjalanan setiap orangnya.
§  Latar Sosialnya adalah status sosial di dalam sebuah kekuasaan antara orang Nippon dan orang Indonesia di suatu perjalanan dalam sebuah trem.



w  JAWA BARU
Unsur Intrinsik
a.    Tema
Tema yang dianut dalam cerita ini adalah mengenai” KEHIDUPAN SUSAH.
Ini berdasarkan atas semua inti dari cerita ini yang semua menceritakan tentang kehidupan susah pada zamannya. Cuplikan cerita yang menandai tema tersebut :
Pada halaman 86, paragraf ke 3 :
Surat-surat kabar penuh dengan kabar perang, tetapi surat-surat kabar itu kosong dengan pekabaran seperti diatas. Seperti kejadian di atas itu tidak terjadi di kota Jakarta dan tempat lain. Jurnali-jurnalis setiap hari disuruh kemana-mana untuk melihat keadaan di sekeliling kota, tetapi yang ditulisnya hanya tentang kemakmuran bersama.
b.    Alur / plot
Alur yang demikian disebut alur kausal. Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal).
Karena alur ini menceritakan rakyat kecil yang sengsara akibat tingkah dari Jawa Hokokai yang kurang peka dan kurang peduli terhadap rakyatnya. Terutama pemerintah zaman itu yang selalu mengangkat berita baik disurat kabar maksud menutupi dan tidak pernah mau mengangkat cerita kesengsaraan rakyat. Sehingga alur ini Maju, karena menceritakan kehidupan yang terjadi hingga saat ini. Plot : Tertulis pada halaman 87, paragraf 6 : Kehidupan susah, dimana-mana orang-orang mengeluh, tetapi tidak ada seorang pun yang berani membuka mulut. Seorang utusan pemerintah baru kembali dari perjalanannya dari seluruh Jawa dan telah mengirimkan laporannya kepada pemerintah. Malamnya diumumkan di radio, bahwa sungguhpun rakyat hidup susah, mereka tidak mengeluh, menanggungkan segala-galanya dengan sabar, tanda bakti yang keluar dari hati suci. Pada penghabisannya dikatakan pula, bahwa pemerintah Nippon terharu  sekali dengan ketulusan seluruh rakyat Pulau Jawa.
c.     Sudut Pandang
Sudut pandang orang ketiga (third person point of view). Dalam cerita yang menpergunakan sudut pandang orang ketiga, ‘dia’, narator adalah seorang yang berada di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti.
d.      Tokoh / perwatakan
§Anak muda yang telanjang sebenar-benarnya      = Merana, orang gila.
Terlihat dari cerita saat ia setiap harinya yang dengan telanjang sebenar-benarnya dan selalu duduk dibawah pohon saat hari terang, ia hanya menutupi sebagian badannya menggunakan kedua telapak tangannya, ia hanya berani beranjak ke jalan saat hari gelap dan ia menuju kali untuk melihat barangkali ada bangkai ayam atau bangkai orang hanyut untuk dimakannya, karena ia kelaparan.
§Perempuan-perempuan Jalang         = Pekerja keras
Terlihat saat mereka semua menjual diri kepada orang-orang diluar demi untuk membeli beras buat sanak saudaranya, hingga akhirnya mereka mati dengan sendirinya karena bunga mereka sudah layu, dan tidak dihinggapi kumbang lagi.
§Orang-orang Jawa Hokokai             = Acuh, tidak peduli kesusahan rakyat
Terlihat saat mereka mengadakan rapat, dan tidak isa menjawab pertanyaan dari orang Nippon, yang mengemukakan kesusahan rakyatnya, dan mereka tidak bisa membuat jawaban pasti atas pertanyaan yang di ajukan.
e.       Gaya Bahasa
Gaya Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia zaman sekarang, karena bahasanya lebih mudah dimengerti walaupun menceritakan kejadian zaman dahulu dan itu berlaku hingga zaman sekarang masih sama.
f.     Amanat
Amanat yang disampaikan dari cerita tersebut adalah Jika kita menjadi orang yang mempunyai rezeki lebih atau status sosial yang lebih tinggi, kita harus mengingat kepada rakyat yang dibawah yang lebih membutuhkan uluran tangan dari kita.
g.    Latar / Setting
§  Latar tempat : Jakarta, Surabaya, Plered, dan di seluruh Pulau Jawa.
Tergambarkan saat akhir cerita yaitu. Kehidupan susah terjadi di Jakarta, Surabaya, Plered, dan di seluruh Pulau Jawa. Semua orang menengadahkan tangan ke langit, meminta rezeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
§  Latar Waktu : Sepanjang hari mulai dari pagi hingga malam hari dan terjadi pada zaman dahulu hingga zaman sekarang pun masih terjadi seperti itu.
§  Latar Sosial : Kehidupan sosial yang terjadi oleh status yang di atas sehingga membuat kurang peduli dengan rakyat yang dibawahnya. 




w  PASAR MALAM ZAMAN JEPANG
Unsur Intrinsik
a.      Tema
Tema dalam cerita ini adalah “ PASAR MALAM”. Tema itu diambil dari semua kegiatan yang dilakukan ada di dalam sebuah pasar malam. Mulai dari kegiatan perjudian hingga perdebatan antara orang-orang yang berada di pasar malam pada zaman jepang.
b.      Alur / Plot
Cerita ini mengandung alur linear, karena Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Atau alur mundur karena menceritakan kejadian di masa lalu. Plot         :
Saat orang Indonesia mengalami kekalahan saat bermain rolet, sehinnga ia rela satu persatu menjual pakaian nya ,hingga pakain dalamnya. Tetapi tetap saja ia mengalami kekalahan.
c.         Sudut Pandang
Cerita ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena dalam cerita ini pengarang menceritakan kisah orang lain pada masanya, yaitu masa jepang.
d.      Tokoh/ Perwatakan
§  Amin, bajunya bersetrika, jadi bagus, berdasi, dan bersepatu, seperti anggota Chuo Sangiin    = Suka Mengejek, Sombong.
Terlihat saat ia berkata mengejek temannya: “Apa gunanya berdesak. Beli saja yang diluar ini.” “Memang, di luar dua kali lipat, tetapi apa peduli kita. Apa artinya uang sekarang ini.”
§  Ti istri dari seorang Indonesia       = suka meremehkan dan kasar bicaranya.
Terlihat di satu dialognya bersama suami nya: “Kang, ini tolol betul. Bagor kan bukan Karat.”
§  Orang Indonesia, yang kurus = suka berjudi.
Terlihat saat ia serius mengikutu permainan itu yang terus menerus tanpa henti, hingga akhirnya ia sadar bahwa dia kehabisan uang saat merogoh kantong sakunya. hingga akhirnya dia kalah, dan keesokan harinya terdengar bahwa ia sudah mati.\
e.       Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita ini adalah Bahasa Indonesia yang baku, dan di dalamnya banyak menggunakan bahasa sastra, lebih puitis. Kurang dimengerti sedikit bahasa yang digunakan, karena menceritakan pada masa lalu
f.       Amanat
Jangan mudah putus asa hanya karena sebuah permainan, dan jangan mudah mengeluarkan apa yang kita punya hanya demi hal yang tidak berguna.
g.      Latar / Setting
§  Latar Tempat : Berada di Pasar Malam
Karena keseluruhan cerita ini mengusung tema di Pasar Malam.
§  Latar Waktu  : Malam hari saat pada zaman Jepang.
§  Latar Sosial   : Semu bergabung tidak melihat status sosial, karena yang mereka lakukan disana hanya melakukan permainan di Pasar Malam.

w  SANYO
Unsur Intrinsik
a.      Tema
Tema yang tersirat dalam cerita ini adalah “ Penasaran ”
Tema tersebut terlihat saat di dalam cerita mereka melakukan sebuah percakapan yang pada awalnya mereka bersaing dalam menjualkan makanan. Pada akhirnya salah satu pedagang itu terucap kata yang membuat mereka tidak mengerti apa arti dari kata yang di ucapkan tadi, dan terus bertanya arti kata itu kepada setiap pembeli.
b.      Alur / Plot
Cerita ini mengandung alur Kausal, karena Berdasarkan hubungan sebab akibat. Dimana karena keingintahuan Kadir tentang arti kata Sanyo itu, akibatnya Kadir dibawa ke kantor polisi karena ia bertanya pada mata-mata Nippon. Alur nya maju. Plot dari cerita ini ketika : Ketika Kadir terus berusaha bertanya kepada setiap pembeli kacangnya tentang arti dari kata SANYO, hingga suatu saat ia tidak mengetahui bahwa orang yang ia Tanya adalah mata-mata dari Nippon, seketika orang itu marah karena arti kata itu berate sebuah pengejekkan untuk Dai Nippon.
c.       Sudut Pandang
Sudut pandang dari cerita di atas adalah sudut pandang orang ketiga, karena pengarangnya tidak masuk kedalam cerita dan hanya menceritakan kisah orang lain.
d.      Tokoh / Perwatakan
§  Kadir      = Penjual kacang rebus, sifat yang tidak sabar dan sombong.
Terlihat saat ia berjualan kacang dan semua pengunjung tidak ada yang menghampiri barang dagangan dia, dan lebih memilih untuk membeli es krim. Ia pun bergerutu sendiri melihat kantong sakunya yang masih kosong.
§  Seorang tukang es lilin     =  Sopan
Terlihat saat ia menghampiri Kadir dengan sopan memohon untuk memberi kacang dengan harga yang sangat murah, karena ia merasa kelaparan dan hanya memakan es krim dagangannya.
§  Seorang lelaki tua       = Galak dan kasar
Terlihat saat seorang lelaki tua ini memarahi penjual es krim dengan bahasa kasar karena yang ia mau kacang dengan harga 3 sen, bukan es krim yang diberinya tadi oleh penjual es krim yang sedang bercakap dengan Kadir.
§  Seorang lelaki   = Mata- mata Nippon , tegas dan galak
§  Terlihat saat Kadir bertanya pada pria ini tentang arti kata “ SANYO “ yang ternyata itu adalah kata penghinaan untuk Nippon, sehingga Kadir langsung diseret ke kantor polisi.
e.       Gaya Bahasa
Sangat menarik gaya bahasa yang digunakan dalam cerita ini, karena walaupun menceritakan pada zamannya tapi bahasa yang disampaikan menggunakan Bahasa Indonesia yang mudah dimengerti untuk isi ceritanya.
f.       Amanat
Amanat yang disampaikan dalam sebuah cerita ini adalah, jangan mengucapkan hal apapun yang tidak pernah kita mengerti apa arti dari hal tersebut. Karena isa saja hal itu adalah hal yang paling tidak aik untuk di ucapkan. Dan biarlah kita mencari tahu sendiri tentang apa yang tidak kita ketahui.
g.      Latar / Setting
§  Latar Tempat    : Dibawah Radio Umum
Disinilah tempat Kadir berjualan kacang yang masih saja tidak dihampiri oleh pengunjung, dan merupakan tempat penjual es krim untuk menjual es krim nya.
§  Latar Waktu     :Siang hari
Pada waktu ini yang membuat Kadir bergerutu karena hingga panasnya cuaca belum ada satu pun yang membeli kacang yang diual oleh Kadir, sehingga membuat ia kesal kepada penjual es krim.
§  Latar Sosial       : Saling memberi
Tergambarkan jelas saat kadir memberi sedikit barang jualannya walaupun dengan harga yang sangat murah kepada enjual es krim dan lelaki tua yang memaksa membeli dengan haraga yang sangat rendah.


w  Fujinkai
Unsur Intrinsik
a.      Tema
Tema yang tersirat dalam cerita ini adalah “ RAPAT “
Tema ini terlihat karena di dalam nya menceritakan tentang sebuah rapat fujinkai, dimana pemimpin atas mengutus rapat ini untuk menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan oleh anggotanya.
b.      Alur / Plot
Cerita ini Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear. Plot cerita ini saat semua anggotanya mulai merasa jenuh terhadap rapat yang disampaikan oleh Nyonya Sastra, dan mulai satu persatu anggotanya pulang karena rapat itu terlalu lama.
c.       Sudut Pandang
Sudut Pandang yang terjadi di dalam cerita ini adalah sudut pandang orang ketiga, karena pengarangnya memang tidak ikut di dalam cerita, ia hannya menceritakan orang lain sebagai tokohnya.
d.      Tokoh / Perwatakan
§  Nyonya Sastra  = Disiplin, Sombong, dan Sabar
Tersirat dari cerita Nyonya Sastra yang mematuhi perintah atasannya untuk mengadakan rapat bersama anggotanya, membahas tentang pungutan untuk membuat kue.
§  Nyonya Waluyo  = Tidak sabaran dan suka mengejek
Terlihat saat Nyonya Waluyo yang langsung mengundurkan diri mengikuti rapat yang terlalu lama, dan ia keluar sambil mengejek Nonya Waluyo yang membawakan rapat dengan bertele-tele.
§  Nyonya Salim    = Kekurangan ekonomi
Tergambarkan dalam cerita saat Nyonya Salim mengundurkan diri sebagai anggota Fujinkai karena permintaan Nyonya salim untuk memberi beras seperlima liter setiap harinya, ia merasa itu terlalu berat, karena kondisi ekonomi keluarganya.
§  Nyonya Joko     = Simpatik
Terlihat saat ia menceritakan anaknya yang bekerja keras setiap hari dan mesti harus ditambah menanggung karena putusan rapat Fujinkai.
§  Nyonya Surya    = Sombong
Terlihat saat ia menceritakan anaknya dengan sombongnya saat anaknya pulang dan membawa segala hasil dari pekerjaannya.
e.       Amanat
Amanat yang disampaikan di cerita ini adalah, kita harus memusyawarahkan hal penting untuk mendapatkan putusan yang musyawarah. Dan jangan menilai orang dari apa yang kita lihat, tapi kita pun harus belajar mendengarkan apa yang diutarakan seseorang itu.
f.       Latar / Setting
§  Latar Tempat    : Fujinkai Kampung A
Disinilah rapat Fujinkai dilaksanakan, karena sepanjang ceritanya hanya membahas tentang isi rapat.
§  Latar Waktu     : Sepanjang hari mulai dari pagi sampai acara rapat tersebut selesai pada waktunya. Karena rapat ini terlalu lama, jadi menghabiskan waktu yang lama, sehingga anggotanya mengalami kejenuhan didalam rapat tersebut.
§  Latar Sosial       : Rapat Musyawarah
Karena rapat ini diadakan untuk memusyawarahkan pesan dari atasan Nyonya Sastra yang mendapat pesan dari surat-surat kabar pada yang akhir-akhir ini.

w  OH……OH……OH!
Unsur Intrinsik
a.    Tema
Tema di dalam cerita ini adalah “ Perjalanan “
Tema itu berdasarkan atas sepanjang cerita yang menceritakan kisah di dalam perjalanan sebuah kereta api, mulai dari diskriminasi untuk mendapatkan tiket, hingga keributan dengan pasukan Keibondan.
b.   Alur / Plot
Alur dari cerita ini termasuk dalam alur linear, dan alur mundur. Karena menceritakan tentang kejadian masa lalu pada zamannya.
Plot dari cerita ini saat pasukan Keibodan yang berusaha memberhentikan perjalanan hanya untuk mengambil beras bawaan penumpang, dan Polisi datang membuat malu pasukan Keibodan dengan hanya menjawab pertanyaan pemilik beras tersebut. Dan yang ternyata Polisi itu pun melakukan hal yang sama terhadap anak perempuan yang sedang membawa beras, dengan cara menipu anak perempuan itu dengan modus membawakan sebagian beras di pundaknya.
c.    Sudut Pandang
Sudut Pandang dari cerita ini adalah sudut pandang orang ketiga, karena pengarang tidak pernah masuk kedalam cerita sebagai AKU, ia hanya menceritakan kisah orang pada zaman Jepang.
d.   Tokoh / Perwatakan
§  Anak Muda, kurus       = Tokoh lataran.
Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
§  Tukang karcis            = Antagonis
Terlihat saat ia mendiskriminasi dalam member karcis. Ia marah terhadap pembeli karcis yang sudah menuggu lama hanya karena tukang karcis yang tidak juga memberikan karcis itu.
§  Orang Tionghoa          = Sombong
Terlihat saat ia membanggakan bahwa ia mendapat karcis dengan kelas dua, yang berarti itu hanya untuk kelas Nippon.
§  Orang Arab                = Protagonis
Terlihat saat ia sedang bertanya kepada anak muda yang hanya memiliki kaki 1, dan terlihat saat ia berucap “ Astagfirullah “ terhadap orang Indonesia yang berkata kasar.
§  Polisi                = Licik
Terlihat saat ia , mencoba membantu anak perempuan membawa sebagian beras, yang ternyata itu hanya sebuah trik Polisi yang juga untuk mendapatkan beras secara cuma-Cuma, tanpa berbuat kekerasan seperti pasukan Keibodan.
e.    Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita ini sedikit mudah dimengerti, karena memakai bahasa Indonesia yang baku saat zaman dahulu.
f.     Amanat
Amanat yang disampaikan dalam cerita ini adalah, kita tidak boleh membedakan dengan cara mendiskriminasi orang. Dan kita tidak boleh berbuat semena-mena terhadap hak orang lain, karena itu bisa membuat malu diri kita sendiri pada kelaknya.
g.    Latar / Setting
§  Latar tempat     : Sukabumi, perjalanan di dalam sebuah kereta.
Karena sepanjang perjalanan dari cerita ini hanya menceritakan di dalam sebuah kereta dari daerah Sukabumi.
§  Latar Waktu   : Siang hari
Karena tercantum di dalam cerita saat mereka merasa kepanasan ketika di dalam sebuah perjalanan kereta dari arah Sukabumi.
§  Latar Sosial   : Ketika Stasiun di Sukabumi padat oleh penumpang, dan tukang karcis melakukan diskriminasi terhadap pembeli tiket.

w  HEIHO
Unsur Intrinsik
a.      Tema
Tema yang tersirat dari cerita di atas adalah“ Perjuangan “
Tema ini tersirat karena di dalam cerita ini menceritakan sebuah perjuangan Kartono untuk menjadi seorang Heiho, hingga ia mempertaruhkan huungan keluarganya demi membela tanah air.
b.      Alur / Plot
Alur yang terjadi di dalam cerita ini adalah alur mundur, karena menceritakan perjuangan seseorang untuk menjadi Heiho. Dan mengandung Kausal, karena ada hubungan antara sebab dan akibat.
Plot yang ada didalam cerita ini saat Kartono mendapat kabar kelulusan untuk menjadi seorang Heiho dan ia pulang kerumahnya dengan meksud member kejutan kepada istrinya yang ternyata istrinya malah member pilihan kepada Kartono untuk memilih Heiho atau istrinya.
c.       Sudut Pandang
Sudut pandang dari cerita di atas adalah sudut pandang orang ketiga, karena pengarangnya menceritakan kisah orang dengan menggunakan kata Ia atau Dia.
d.      Tokoh / Perwatakan
§  Kartono            = Protagonis, Sabar, dan Pejuang Keras
Terlihat saat ia Berusaha ingin menjadi seoorang Heiho dan sabar mendengar ocehan atasannya, karena kesal mendengar permintaan Kartono yang meminta menulis penghargaan menggunakan Bahasa Nippon. Dan ia rela meninggalkan keluarganya hanya untuk membela Tanah Air.
§  Kepala Kantor   = Mudah Tersinggung, Pemarah.
Terbukti saat ia merasa kesal terhadap Kartono dan ia marah terhadap Kartono yang meminta untuk menulis penghargaan untuk dirinya menggunakan Bahasa Nippon.
§  Miarti              = Istri Kartono, Tegas.
Terlihat saat Miarti meminta Kartono memilih antara dirinya atau menjadi seorang Heiho untuk membela Negara dan Tanah Air.
e.       Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita disini sangat menarik, sehingga membuat pembaca mudah mengerti dalam mebaca kisah-kisah perjuangan masa lalu.
f.       Amanat
Kita pun sebagai penerus Bangsa yang baik, harus lebih bersemangat untuk berjuang untuk mendapatkan hal yang menjadi impian kita jika itu memang bersifat positif.
g.      Latar / Setting
§  Latar Tempat    : Di kantor Kartono, Markas Heiho, dan Rumah Kartono.
§  Latar Waktu     : Sepanjang hari mulai dari pagi hingga malam
Karena di dalam cerita di mulai saat Kartono berada di dalam kantor hingga menuju markas Heiho dan pulang kerumahnya.
§  Latar Sosial       : Perjuangan menjadi seorang Heiho.
Terlihat saat usaha keras dari Kartono yang ingin menjadi seorang Heiho untuk membela Tanah Air.

SESUDAH 17 AGUSTUS 1945
Unsur Intrinsik
a.    Tema
w  Kisah Sebuah Celana Pendek      = Perjuangan
Terlihat tema cerita ini saat Kusno dan ayahnya yang memperjuangkan cita-cita mereka untuk mendapatkan sesuatu.
w  Surabaya                                  = Peperangan
Terlihat tema cerita ini saat orang-orang Indonesia yang tengah memperjuangkan Bangsa Indonesia di daerah Surabaya.
w  Jalan lain ke Roma                     = Perjalanan, lika-liku kehidupan.
Tema cerita ini terlihat saat sebuah perjalanan Open dalam mencari sebuah kejujuran seperti yang selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya.
b.   Alur / Plot
w  Kisah Sebuah Celana Pendek
Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear.
w  Surabaya
Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear.
w  Jalan Lain ke Roma
Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal.
Plot :
w  Kisah Sebuah Celana Pendek
Saat dimana Kusno yang berjuang mempertahankan sebuah celananya untuk tidak dijual, padahal ia merasa kelaparan. Tercantum pada halaman 117 paragraf ke-5
w  Surabaya
Tercantum saat adegan ke-5 dimana tentara sekutu semakin bertambah maju masuk ke kota.
w  Jalan Lain ke Roma
          Terlihat dalam cerita saat Open diminta datang di Kepentai, tercantum di halaman 166.
c.    Sudut Pandang
Sudut pandang yang tercantum dalam ketiga cerita tersebut adalah sudut pandang orang ketiga, karena si pengarang hanya menceritakan kisah orang lain, tidak mencantumkan namanya di dalam cerita ini.
d.   Tokoh / Perwatakan
w  Kisah Sebuah Celana Pendek
v Kusno                              = Pejuang keras
Tergambarkan dalam cerita ini saat ia yang terus memperjuangkan sebuah celana pemberian ayahnya disbanding mengurusi rasa kelaparan.
v Pak Kusno                        = Pekerja keras
Terlihat saat ia yang bekerja keras mengumpulkan uang untuk membelikan sebuah celana kepada anaknya agar bahagia.
w  Surabaya
v Orang- orang Indonesia   = Pembela Indonesia, Pejuang
Terlihat saat mereka rela berkorban membela tanah airnya di Surabaya untuk melawan sekutu.
v Belanda- Indo                  = Penjajah , Pemarah
Terlihat saat mereka merasa terhina saat orang Indonesia merobek bendera mereka menjadi bendera Indonesia.
v Sekutu                            = Licik, penjajah, penguasa
Terlihat saat mereka mencurangi rakyat Surabaya dengan membodohi mereka untuk menuruti segala perintahnya.
w  Jalan Lain ke Roma
v Open                               = Jujur dan polos
Terlihat saat ia yang selalu mengingat pesan orang tuanya untuk selalu jujur.
v Istri Open                      = Pemarah
Terlihat saat ia yang sering sekali memarahi Open sambil mebawa-bawa sebuah golok.
v Ayah , Ibu                       = Baik, menyayangi anaknya dan bijaksana.
Terlihat saat mereka yang berusaha mencari nama baik untuk anaknya, dan saat mengajarkan anaknya untuk jujur dalam segala hal.
v Surtiah (istri kedua Open)  = Pekerja keras, Sabar, Penyayang, setia dan patuh pada suami.
Terlihat saat Surtiah dengan sabarnya menyayangi suaminya, dan bekerja keras membantu kedua orang tuanya.
v Mualim kota  = cerdas dan banyak memberikan pelajaran kepada Open.
e.    Gaya Bahasa
Gaya Bahasa yang tertulis dalam cerita ini adalah Bahasa Indonesia Baku, sedikit kurang dipahami karena masih mengandung nilai-nilai pada zaman jepang.
f.     Amanat
w  Kisah Sebuah Celana Pendek
Amanat yang disampaikan adalah bahwa kita harus memperjuangkan apa yang kita inginkan dan jangan putus asa untuk mempertahankan apa yang kita inginkan atau kita miliki.
w  Surabaya
Amanat yang disampaikan adalah bahwa kita sebagai warga Negara yang baik harus membela Bangsa kita dari para penjajah yang ingin merenggut kemerdekaan kita.
w  Jalan Lain ke roma
Amanat yang disampaikan adalah masih banyak jalan lain yang lebih baik untuk kita gapai, dan terus kejarlah apa yang kita cita-citakan tapi jangan sampai melupakan orang yang sangat berharga di sebelah kita.
g.    Latar / Setting
w  Kisah Sebuah Celana Pendek
-      Waktu           : Zaman Jepang, saat perang hari pearl Harbour
-      Tempat          : Pearl Harbour, Kantor
-      Sosial            : Peperangan yang terjadi hanya untuk orang besar, orang kecil tidak memedulikan.
w  Surabaya
-      Waktu         : Zaman Jepang, setelah kemerdekaan
-      Tempat        : Surabaya
-      Sosial          : Kehidupan pejuang dalam mempertahankan Surabaya dari tentara sekutu.
w  Jalan Lain ke Roma
-      Waktu         : Zaman Jepang sepanjang hari
-      Tempat        : daerah perkotaan dan Desa
-      Sosial          : Kejujuran yang sulit di dapat pada zaman itu.

DARI AVE MARIA KE JALAN LAIN KE ROMA
Karya          : A. Idrus 1948
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik yang umum
Unsur Intrinsik:
w   Tema
Tema umum dari novel ini adalah “ Kesederhanaan Baru “
Karena di dalam cerita ini membahas tentang berbagai macam kehidupan ekonomi yang menimbulkan sebab dan akibat itu sendiri.
w  Alur / Plot
Alur dari novel ini adalah alur mundur, karena setiap ceritanya hanya menceritakan kehidupan di zaman dahulu, kejadian yang terjadi pada zaman dahulu dan berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear.
Plot dari novel ini :
w  Plot yang tersirat dalam cerita Ave Maria adalah Ketika Zulbahri pergi meninggalkan Wartini, dan merelakan istrinya untuk teman lamanya, hingga ia pun jalan tak menentu arah menjalani sisa hidupnya. Tersirat pada halaman18.
w  Plot yang tersirat dalam cerita Kejahatan Membalas Dendam adalah saat adegan ketiga belas dari babak ketiga.
w  KOTA HARMONI. Plot nya saat dimana orang Indonesia bertengkar dengan seorang Nippon yang menaiki jendela trem dan terlibat adu mulut. Dan orang Kenpentai membela orang Indonesia karena memang orang Indonesia benar untuk memarahi orang Nippon tersebut.
w  JAWA BARU. Tertulis pada halaman 87, paragraf 6. Kehidupan susah, dimana-mana orang-orang mengeluh, tetapi tidak ada seorang pun yang berani membuka mulut. Seorang utusan pemerintah baru kembali dari perjalanannya dari seluruh Jawa dan telah mengirimkan laporannya kepada pemerintah. Malamnya diumumkan di radio, bahwa sungguhpun rakyat hidup susah, mereka tidak mengeluh, menanggungkan segala-galanya dengan sabar, tanda bakti yang keluar dari hati suci. Pada penghabisannya dikatakan pula, bahwa pemerintah Nippon terharu  sekali dengan ketulusan seluruh rakyat Pulau Jawa.
w  PASAR MALAM ZAMAN JEPANG. Saat orang Indonesia mengalami kekalahan saat bermain rolet, sehinnga ia rela satu persatu menjual pakaian nya ,hingga pakain dalamnya. Tetapi tetap saja ia mengalami kekalahan.
w  SANYO. Ketika Kadir terus berusaha bertanya kepada setiap pembeli kacangnya tentang arti dari kata SANYO, hingga suatu saat ia tidak mengetahui bahwa orang yang ia Tanya adalah mata-mata dari Nippon, seketika orang itu marah karena arti kata itu berati sebuah pengejekkan untuk Dai Nippon.
w  FUJINKAI. Plot cerita ini saat semua anggotanya mulai merasa jenuh terhadap rapat yang disampaikan oleh Nyonya Sastra, dan mulai satu persatu anggotanya pulang karena rapat itu terlalu lama.
w  OH……OH…..OH!. Plot dari cerita ini saat pasukan Keibodan yang berusaha memberhentikan perjalanan hanya untuk mengambil beras bawaan penumpang, dan Polisi datang membuat malu pasukan Keibodan dengan hanya menjawab pertanyaan pemilik beras tersebut. Dan yang ternyata Polisi itu pun melakukan hal yang sama terhadap anak perempuan yang sedang membawa beras, dengan cara menipu anak perempuan itu dengan modus membawakan sebagian beras di pundaknya.
w  HEIHO. Plot yang ada didalam cerita ini saat Kartono mendapat kabar kelulusan untuk menjadi seorang Heiho dan ia pulang kerumahnya dengan meksud member kejutan kepada istrinya yang ternyata istrinya malah member pilihan kepada Kartono untuk memilih Heiho atau istrinya.
w  Kisah Sebuah Celana Pendek. Saat dimana Kusno yang berjuang mempertahankan sebuah celananya untuk tidak dijual, padahal ia merasa kelaparan. Tercantum pada halaman 117 paragraf ke-5.
w  Surabaya. Tercantum saat adegan ke-5 dimana tentara sekutu semakin bertambah maju masuk ke kota.
w  Jalan Lain ke Roma. Terlihat dalam cerita saat Open diminta datang di Kepentai, tercantum di halaman 166.
w   Sudut Pandang
Sudut Pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, karena si pengarang tidak mencantumkan dirinya masuk dalam cerita, dan ia hanya menceritakan kisah orang lain dengan kata ganti Ia atau Dia.
w  Tokoh / Perwatakan
Ave Maria    :
w  Zulbahri  = Tegar
Diceritakan saat Zulbahri yang rela mengalah untuk kebahagiaan istrinya yang lebih pantas bersama teman lamanya.
w  Wartini   = Munafik
Terlihat di dalam cerita saat wartini yang ingin memiliki kedua pria tersebut, walaupun ia sering kali berkata pada suaminya, bahwa hanya suaminya lah yang ia cintai, bukan teman lamanya.
w  Syamsu   = Licik
Terlihat saat ia yang datang kembali ke kehidupan wartini yang sudah berkeluarga, dan dengan maksud hanya datang sebagai sahabat, tetapi akhirnya merebut wartini dari tangan Zulbahri hingga menghamili wartini.
w  Ayah       = Baik
Terlihat saat ia terus menunggu kedatangan Zulbahri walaupun terlihat sedikit aneh dengan awal kedatangannya. Ia terus mendengarkan keluh kesah Zulbahri.
w  Ibu         = Baik
w  Terlihat saat Ibu yang dengan sabarnya mendengarkan keluh kesah Zulbahri hingga sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Kejahatan Membalas Dendam :
w  Ishak      = Pengarang Muda, Lemah, Putus asa
Terlihat di dalam cerita saat Ishak lari dari dunia nya hanya karena kritikan dari Pak Orok hingga meninggalkan tunangannya.
w  Satilawati= Tunangan Ishak
Terlihat saat ia yang terus berjuang mempertahankan karir dan cintanya.
w  Kartili     = Dokter, Teman Ishak, Licik
Terlihat sat ia yang berusaha menjelekkan Ishak untuk mendapatkan Satilawati yang sudah lama ia cintai.
w  Asmadiputera= Meester in de rechten, teman Ishak, Baik, setia kawan
Terlihat saat ia yang hanya satu-satunya teman dalam ikut memperjuangkan nama Ishak di depan rakyat.
w  Sukroso  = Pengarang Kolot, Ayah Satilawati, Pengkritik
Terlihat saat ia yang tidak menyukai hasil karya dari Ishak dan terus mengkritik dari karya yang dibuat Ishak.
w  Perempuan Tua= Nenek Sasilawati, Dukun , Adil
Terlihat saat ia yang berusaha adil kepada keluarganya, dimana ayah sasilawati yang berusaha menjauhkan Ishak dari kehidupannya, tapi nenek itu berusaha melihat jalan tengahnya dengan tidak ingin menyakiti hati cucu kesayangannya.
KOTA HARMONI :
w  Perempuan muda, Belanda Indo        = Angkuh, Sombong.
“Siapa lagi yang membawa terasi ke atas trem. Tidak tahu aturan, ini kan kelas satu.” dia berkata kepada salah satu penumpang di dalam trem itu.
w  Perempuan tua, bungkuk, kurus       = Sederhana dan Merana.
Terlihat saat perempuan tua ini bersitegang dengan seorang kondektur yang mengusir perempuan tua ini untuk pindah  kelas, karena tidak sanggup membayar biaya menaiki trem.
w  Kondektur 1      = Angkuh dan Semena-mena.
Terlihat saat kondektur 1 mengusir perempuan tua yang tidak sanggup membayar biaya trem dengan semena-mena tanpa belas kasihan.
w  Kondektur 2      = Pemarah
Terlihat saat kondektur 2 yang berkomentar saat melihat kondektur 1 yang mengusir perempuan tua untuk  pindah kelas 2 karena tidak cukup untuk membayar biaya menaiki trem.
w  Seorang anak muda     = jujur
Terlihat saat ia mengutarakan ketidaksukaanya terhadap perlakuan orang Nippon yang semena-mena di dalam trem yang penuh sesak. Dialog      : “Orang kelas satu dan orang kelas dua disamakannya saja, seperti binatang saja diperlakukannya.”
w  Orang Nippon             = Semena-mena dan tidak tahu aturan.
Terlihat saat 3 orang Nippon yang sengaja memberhentikan trem yang sedang berjalan dengan tanpa aturan dan menaiki term tersebut dengan senyum kemenangan.
w  Orang kenpentai         = Adil
Terlihat saat ia marah kepada seorang Nippon yang menaiki jendela trem, yang memang sudah jelas marah kepada orang yang salah. Bukan seperti orang lain yang memandang sebuah kekuasaan untuk memarahi orang yang salah.
JAWA BARU :
w  Anak muda yang telanjang sebenar-benarnya      = Merana, orang gila.
Terlihat dari cerita saat ia setiap harinya yang dengan telanjang sebenar-benarnya dan selalu duduk dibawah pohon saat hari terang, ia hanya menutupi sebagian badannya menggunakan kedua telapak tangannya, ia hanya berani beranjak ke jalan saat hari gelap dan ia menuju kali untuk melihat barangkali ada bangkai ayam atau bangkai orang hanyut untuk dimakannya, karena ia kelaparan.
w  Perempuan-perempuan Jalang         = Pekerja keras
Terlihat saat mereka semua menjual diri kepada orang-orang diluar demi untuk membeli beras buat sanak saudaranya, hingga akhirnya mereka mati dengan sendirinya karena bunga mereka sudah layu, dan tidak dihinggapi kumbang lagi.
w  Orang-orang Jawa Hokokai             = Acuh, tidak peduli kesusahan rakyat
Terlihat saat mereka mengadakan rapat, dan tidak isa menjawab pertanyaan dari orang Nippon, yang mengemukakan kesusahan rakyatnya, dan mereka tidak bisa membuat jawaban pasti atas pertanyaan yang di ajukan.
PASAR MALAM ZAMAN JEPANG :
w  Amin, bajunya bersetrika, jadi bagus, berdasi, dan bersepatu, seperti anggota Chuo Sangiin    = Suka Mengejek, Sombong.
Terlihat saat ia berkata mengejek temannya: “Apa gunanya berdesak. Beli saja yang diluar ini.” “Memang, di luar dua kali lipat, tetapi apa peduli kita. Apa artinya uang sekarang ini.”
w   Ti istri dari seorang Indonesia       = suka meremehkan dan kasar bicaranya.
Terlihat di satu dialognya bersama suami nya: “Kang, ini tolol betul. Bagor kan bukan Karat.”
w  Orang Indonesia, yang kurus = suka berjudi
Terlihat saat ia serius mengikutu permainan itu yang terus menerus tanpa henti, hingga akhirnya ia sadar bahwa dia kehabisan uang saat merogoh kantong sakunya. hingga akhirnya dia kalah, dan keesokan harinya terdengar bahwa ia sudah mati.
SANYO :
w  Kadir      = Penjual kacang rebus, sifat yang tidak sabar dan sombong.
Terlihat saat ia berjualan kacang dan semua pengunjung tidak ada yang menghampiri barang dagangan dia, dan lebih memilih untuk membeli es krim. Ia pun bergerutu sendiri melihat kantong sakunya yang masih kosong.
w  Seorang tukang es lilin                   = Sopan
Terlihat saat ia menghampiri Kadir dengan sopan memohon untuk memberi kacang dengan harga yang sangat murah, karena ia merasa kelaparan dan hanya memakan es krim dagangannya.
w  Seorang lelaki tua       = Galak dan kasar
Terlihat saat seorang lelaki tua ini memarahi penjual es krim dengan bahasa kasar karena yang ia mau kacang dengan harga 3 sen, bukan es krim yang diberinya tadi oleh penjual es krim yang sedang bercakap dengan Kadir.
w  Seorang lelaki   = Mata- mata Nippon , tegas dan galak
Terlihat saat Kadir bertanya pada pria ini tentang arti kata “ SANYO “ yang ternyata itu adalah kata penghinaan untuk Nippon, sehingga Kadir langsung diseret ke kantor polisi.
FUJINKAI :
w  Nyonya Sastra  = Disiplin, Sombong, dan Sabar
Tersirat dari cerita Nyonya Sastra yang mematuhi perintah atasannya untuk mengadakan rapat bersama anggotanya, membahas tentang pungutan untuk membuat kue.
w  Nyonya Waluyo  = Tidak sabaran dan suka mengejek
Terlihat saat Nyonya Waluyo yang langsung mengundurkan diri mengikuti rapat yang terlalu lama, dan ia keluar sambil mengejek Nonya Waluyo yang membawakan rapat dengan bertele-tele.
w  Nyonya Salim    = Kekurangan ekonomi
Tergambarkan dalam cerita saat Nyonya Salim mengundurkan diri sebagai anggota Fujinkai karena permintaan Nyonya salim untuk memberi beras seperlima liter setiap harinya, ia merasa itu terlalu berat, karena kondisi ekonomi keluarganya.
w  Nyonya Joko     = Simpatik
Terlihat saat ia menceritakan anaknya yang bekerja keras setiap hari dan mesti harus ditambah menanggung karena putusan rapat Fujinkai.
w  Nyonya Surya    = Sombong
w  Terlihat saat ia menceritakan anaknya dengan sombongnya saat anaknya pulang dan membawa segala hasil dari pekerjaannya.
OH…OH…OH! :
w  Anak Muda, kurus       = Tokoh lataran.
Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
w  Tukang karcis             = Antagonis
Terlihat saat ia mendiskriminasi dalam member karcis. Ia marah terhadap pembeli karcis yang sudah menuggu lama hanya karena tukang karcis yang tidak juga memberikan karcis itu.
w  Orang Tionghoa          = Sombong
Terlihat saat ia membanggakan bahwa ia mendapat karcis dengan kelas dua, yang berarti itu hanya untuk kelas Nippon.
w  Orang Arab                = Protagonis
Terlihat saat ia sedang bertanya kepada anak muda yang hanya memiliki kaki 1, dan terlihat saat ia berucap “ Astagfirullah “ terhadap orang Indonesia yang berkata kasar.
w  Polisi                = Licik
w  Terlihat saat ia , mencoba membantu anak perempuan membawa sebagian beras, yang ternyata itu hanya sebuah trik Polisi yang juga untuk mendapatkan beras secara cuma-Cuma, tanpa berbuat kekerasan seperti pasukan Keibodan.
HEIHO :
w  Kartono            = Protagonis, Sabar, dan Pejuang Keras
Terlihat saat ia Berusaha ingin menjadi seoorang Heiho dan sabar mendengar ocehan atasannya, karena kesal mendengar permintaan Kartono yang meminta menulis penghargaan menggunakan Bahasa Nippon. Dan ia rela meninggalkan keluarganya hanya untuk membela Tanah Air.
w  Kepala Kantor   = Mudah Tersinggung, Pemarah.
Terbukti saat ia merasa kesal terhadap Kartono dan ia marah terhadap Kartono yang meminta untuk menulis penghargaan untuk dirinya menggunakan Bahasa Nippon.
w  Miarti              = Istri Kartono, Tegas.
w  Terlihat saat Miarti meminta Kartono memilih antara dirinya atau menjadi seorang Heiho untuk membela Negara dan Tanah Air.
Kisah Sebuah Celana Pendek :
w  Kusno                              = Pejuang keras
Tergambarkan dalam cerita ini saat ia yang terus memperjuangkan sebuah celana pemberian ayahnya disbanding mengurusi rasa kelaparan.
w  Pak Kusno                        = Pekerja keras
Terlihat saat ia yang bekerja keras mengumpulkan uang untuk membelikan sebuah celana kepada anaknya agar bahagia.
Surabaya :
w  Orang- orang Indonesia   = Pembela Indonesia, Pejuang
Terlihat saat mereka rela berkorban membela tanah airnya di Surabaya untuk melawan sekutu.
w  Belanda- Indo                  = Penjajah , Pemarah
Terlihat saat mereka merasa terhina saat orang Indonesia merobek bendera mereka menjadi bendera Indonesia.
w  Sekutu                            = Licik, penjajah, penguasa
Terlihat saat mereka mencurangi rakyat Surabaya dengan membodohi mereka untuk menuruti segala perintahnya.
Jalan Lain ke Roma :
w  Open                               = Jujur
Terlihat saat ia yang selalu mengingat pesan orang tuanya untuk selalu jujur.
w  Istri Open                      = Pemarah
Terlihat saat ia yang sering sekali memarahi Open sambil mebawa-bawa sebuah golok.
w  Ayah , Ibu                       = Baik, menyayangi anaknya
Terlihat saat mereka yang berusaha mencari nama baik untuk anaknya, dan saat mengajarkan anaknya untuk jujur dalam segala hal.
w  Surtiah                           = Pekerja keras, Sabar, Penyayang
Terlihat saat Surtiah dengan sabarnya menyayangi suaminya, dan bekerja keras membantu kedua orang tuanya.
d.   Amanat
Amanat yang tercantum dalam novel di setiap ceritanya adalah, Kita sebagai penerus bangsa sudah seharusnya mengenang sebuah perjuangan orang terdahulu dalam melawan penjajah. Dan harus meniru semangat serta perjuangannya dalam hal apapun.
e.    Gaya Bahasa
Gaya bahasa dalam pembuatan novel ini menggunakan bahasa Indonesia yang baku untuk lebih menceritakan hal pada zaman dahulu.


f.       Latar / Setting
w  Latar Tempat    : Kota harmoni, Pulau Jawa, Pasar Malam, Radio Umum, Sukabumi, Kantor,Surabaya,perkotaan.
Terlihat dari macam-macam tempat di dalam ceritanya untuk menggambarkan cerita tersebut.
w  Latar Waktu     : Zaman Jepang, Pagi-Malam hari
w  Latar Sosial       : Kehidupan zaman Jepang yang terjadi sebuah evolusi di setiap ceritanya.

Unsur Ekstrinsik novel ini adalah :
1.      Biografi Pengarang
Abdullah Idrus (lahir di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia menikah dengan Ratna Suri pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat putra dan dua putri, yaitu Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus, Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.
v Dunia Sastra
Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu.
Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai tempatnya bekerja. Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia di sana dan berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Keinginannya itu pun terwujud, ia berkenalan dengan H.B. JassinSutan Takdir AlisyahbanaNoer Sutan IskandarAnas Makruf, dan lain-lain.
Meskipun menolak digolongkan sebagai sastrawan Angkatan ’45, ia tidak dapat memungkiri bahwa sebagian besar karyanya memang membicarakan persoalan-persoalan pada masa itu. Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya.
Hasratnya yang besar terhadap sastra membuatnya tidak hanya menulis karya sastra, tetapi juga menulis karya-karya ilmiah yang berkenaan dengan sastra, seperti Teknik Mengarang Cerpen dan International Understanding Through the Study of Foreign Literature. Kemampuannya menggunakan tiga bahasa asing (BelandaInggris, dan Jerman) membuatnya berpeluang untuk menerjemahkan buku-buku asing. Hasilnya antara lain adalah Perkenalan dengan Anton ChekovPerkenalan dengan Jaroslov HaskPerkenalan denganLuigi Pirandello, dan Perkenalan dengan Guy de Maupassant.
Karena tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat terhadap penulis-penulis yang tidak sepaham dengan mereka, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air dan pindah ke Malaysia. Di Malaysia, lepas dari tekanan Lekra, ia terus berkarya. Karyanya saat itu antara lain, Dengan Mata Terbuka (1961) dan Hati Nurani Manusia (1963).
Di dalam dunia sastra, kehebatan Idrus diakui khalayak sastra, terutama setelah karyanya SurabayaCorat-Coret di Bawah Tanah, dan Aki diterbitkan. Ketiga karyanya itu menjadi karya monumental. Setelah ketiga karya itu, memang, pamor Idrus mulai menurun. Namun tidak berarti ia lantas tidak disebut lagi, ia masih tetap eksis dengan menulis kritik, esai, dan hal-hal yang berkenaan dengan sastra di surat kabar, majalah, dan RRI (untuk dibacakan).




2.    Latar belakang penceritaan
v  Sosial
Kehidupan Sosial yang terjadi adalah, sebuah kisah perjalanan dan perjuangan hidup rakyat pada zaman dahulu untuk memperjuangkan hak-haknya atas pemberontakan pada masa Nippon.
v  Politik
Politik yang terjadi dimana pemegang kekuasan lebih berkuasa dan memiliki kekuasaan untuk mengatur rakyat kecil yang sudah sengsara untuk mengikuti hal yang diminta pada masa Nippon.
v  Ekonomi
Kehidupan ekonomi yang terjadi zaman dahulu sangat rendah, sehinnga rakyat kecil begitu sengsara dan membuat Nippon semakin berkuasa untuk menindas Bangsa Indonesia.
v  Budaya
Kebudayaan yang ada dalam cerita adalah kebudayaan Jepang, yang betindak semena-menanya dalam merebut hak rakyat Bangsa Indonesia yang di perbudak oleh Nippon.

3.    Aliran
Dalam novel ini mengandung aliran REALISME.
Aliran ini mengutamakan realitas kehidupan. Sastra realis merupakan kutub seberang dari sastra imajis. Apa yang diungkapkan para pengarang realis adalah hal-hal yang nyata, yang pernah terjadi, bukan imajinatif belaka. Biografi, otobiografi, true-story, album kisah nyata, roman sejarah, bisa kita masukkan ke sini. Sastra realis juga berbeda dengan berita surat kabar atau laporan kejadian, karena ia tidak semata-mata realistik. Sebagai karya sastra, ia pun dihidupkan oleh pijar imajinasi dan plastis bahasa yang memikat.

1 comment :